Feeds:
Posts
Comments

Perebutan gelar juara liga premier inggris telah berakhir dini hari tadi. Kompetisi kejar-mengejar di posisi pertama antara liverpool dan manchester city telah berujung pangkal, bahwa the citizen resmi menggondol gelar kedua ketiga.

ManCity dibawah besutan pelatih Manuel Pellegrini berhasil melanjutkan dominasi Roberto Mancini. Taktik ala Spanyol yg di terapkan Pellegrini cukup memberi rasa pada permainan city pasca ditinggal Mancini. Pellegrini memang cerdas, sepertihalnya saat melatih malaga, madrid dan villarreal.

Jaman melatih real madrid, 2009 s/d 2010, visi Pellegrini sangat jauh ke depan. Dia lah yang mendatangkan richardo kaka dari AC Milan, dan beberapa pemain bintang lainnya ke los blancos seperti Cristiano Ronaldo dari Manchester United, karim benzema dan xabi alonso. Kalimat fenomenalnya kala itu, “if we want To win the champions league and Be the best team in the world! We need the best players in the world” 

Pellegrini lahir di Santiago, Chile tahun 1953. Pria ini, sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia sepak bola sebagai pelatih, sempat menempuh pendidikan dan lulus sebagai insinyur sipil. Tahun 1979, Pellegrini mendapat gelar civil engineering nya dari Pontifical Catholic University of chile.

At least, sebagai pendukung GGMU, saya secara pribadi mengucapkan selamat pada the citizen ManCity, the neighbor, telah memenangkan gelar juara liga inggris kali ke tiga (1973, 2011-2012 dan 2013-2014). Congratz mr pellegrini.. U r th visionary..

Menginjak hari ke-4, tepat di hari jumat. Bagi para worker yang berstatus employee , dikenal istilah TGIF.. Thanks God It’s Friday. Hari dimana segala aktifitas dalam seminggu akan diakhiri melalui ritual akhir pekan. Merefresh fisik dan mental melalui aktifitas akhir pekan yang tidak bisa dilakukan pada workday.

Namun, istilah TGIF ini juga diiringi dengan munculnya istilah IHM, I hate Monday, yang muncul di senin pagi, persis pada saat para employee ini bangun tidur. Ciri gejalanya antara lain, badan lesu, kepala berat, mengantuk, malas, dan sulit menerima kenyataan ( bahwa hari senin tidak libur).

Dalam dunia psikologi dikenal istilah passion.  Passion adalah Sesuatu yang membuat kita bergairah menjalani aktifitas, entah itu Sekedar pekerjaan sehari-hari, ataupun bahkan aktifitas overtime dari pekerjaan sehari-hari.

So, Begitu hasrat dan gairah serta kenikmatan berelaborasi, maka istilah i hate monday dan istilah thanks god it’s friday akan berubah menjadi istilah TGFT, thanks god for today..

At least, Mengutip quote bill keane untuk hari ini.

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift of God, which is why we call it the present

do the best for today, buddy!!

Nulis plus plus..

Sudah jalan hari ke-3, saya memaksakan diri ini untuk menulis di pagi hari. Alur Rutinitasnya kurang lebihny sebagai berikut bangun pagi, cek handphone, reply pesan, sholat baru nulis, setelahnya baru sarapan, cek detik.com trus mandi nd ngantor.

Saya jd teringat 5 tahun yg lalu, saat-saat dimana blog masih sangat ngepop, dan orang berbondong- bondong untuk membuatnya, menulis tentang sesuatu dan mempublishnya. Sungguh amat dsayangkan, makin taun peminatny makin berkurang seiring dengan munculnya social media yg lain, seperti twitter,dkk. Banyak kemudian yg menghentikan secara total aktifitas menulisny.

Flashback ke Jaman prasejarah dulu, dimana orang masih tinggal secara nomaden, hidup didalam gowa dan menyambung hidup dgn berburu, memang belum mengenal huruf dan angka, sehingga secara otomatis tidak mengenal aktifitas tulis menulis. Namun, mereka sedikit banyak sudah memulai dengan membuat tanda, berupa simbol yg mereka tuangkan di langit- langit dan dinding gowa.

Memasuki akhir era prasejarah, manusia mulai memahami huruf dan angka, yg selanjutnya mereka rangkai menjadi kalimat-kalimat. Dan ketika muncul medium tulis, maka terlahir lah jaman sejarah, jaman dimana segala sesuatunya bisa terdokumentasi melalui tulisan.

Peradaban yang satu diturunkan ke lain generasi melalui media tulis menulis. Pengalaman hidup seseorang pun bisa turunkan ke orang lain dan generasi berikutny melalui tulis menulis. Sehingga amat disayangkan bila Saat ini, kita yg hidup di era milenium, era prkembangan teknologi, era reformasi pembaharuan justru meninggalkan aktifitas tulis menulis. Alih alih justru menikmati habit instant, seperti celoteh/twitt.

Berceloteh memang sgt praktis, ide tertuang dan orang lain bisa mengerti sebatas kultwit yg kt punya, namun mnurut saya sangat disayangkan klau cuman sekedar berceloteh tapi tidak menulis. Bagaimanapun celotehan/twitt punya keterbatasan kuota kata, dan kultwitt pun punya keterbatasan konteks cerita. Baiknya, menurut saya, selain ngetwit kt juga perlu menghidupkan tulis menulis apa pun medianya, sehingga ide kita everlasting dan bisa dinikmati generasi anak cucu kita secara komprehensif.

 

 

 

Beberapa pekan ini, di beberapa stasiun televisi, sedang marak aksi kekerasan oleh anak, terhadap anak dan antar anak. Dari mulai kasus phedofil, sodomi, sampai pada kasus penganiayaan anak sekolah dasar yang berakibat kematian.

Saya miris bilamana membayangkan efek jangka panjangnya, terutama pada korban dan keluarga korban.

Kasus sodomi misalnya, bila kita cermati sisi psikologis korban, ada kecenderungan bahwa storage si anak akan menyimpan dan merekam kejadian tidak sehat itu ke dalam memori bawah sadarnya, sehingga opsinya bisa menjadi dua, pertama bisa menjadi traumatis/mematikan pribadi diri atau justru menjadi psikopat baru yang berpotensi mengulang kejadian tersebut.

Terlintas saja di kepala saya sebuah teori yg mewakili kondisi saat ini. Teori evolusi darwin. Meski statusnya dulu kerap diperdebatkan, saya tdk akan membahas perdebatannya disini.

Darwin mengatakan bahwa dulu jerapah itu lehernya pendek. Karena diperlakukan oleh sistem alamnya demikian maka jadilah jerapah berleher panjang. Darwin juga bilang bahwa monyet itu adalah nenek moyangnya, yang lantas karena seleksi alam dan peradaban akhirnya muncul manusia berakal. Pertanyaan saya, seandainya darwin masih hidup adalah, apakah kita dimungkinkan kembali ke peradaban monyet? Jadi monyet?

Berkaca juga pada kitab suci Al Quran, bahwa diceritakan tentang kaum kaum terdahulu yang memiliki pola hidup tidak beradab, semisal pecinta sesama jenis. Dan akhirnya, bencana alam muncul sebagai jawaban yang meluluh lantahkan peradaban tersebut.

Nah, kontemplasi saya berujung pada pemikiran bahwa manusia pada dasarnya adalah insan sosial. Yang hidupnya karena berkoloni, maka butuh sosialisasi, dan butuh manusia lain disekitarnya meski itu hanya sebatas orang tua, namun yang pasti manusia butuh mengetahui bahwa kesadaran kolektif sosial bisa menjadi kunci perbaikan.

Dikaitkan dengan kasus sodomi terhadap anak, kesadaran kolektif yang perlu pertama kali kita bangun adalah bahwa ini merupakan tanggung jawab bersama. Cara masyarakat memperlakukan korban merupakan tanggung jawab bersama, yang bilamana kita gagal membina, dan/ atau mengkondisikan psikologis korban, bukan tidak mungkin anak cucu kita yang jadi korban selanjutnya.

Apalagi teknologi dan teori psikologi terkini sudah mengenal hypnoterapi.

Kombinasi hypnoterapi (memperbaiki dari dalam) dan sosialisasi kemasyarakatan (memperbaiki dari luar), bisa jadi obat yang mujarab ketimbang pengasingan dan isolated boundaries terhadap si korban maupun pelaku.

 

Biasanya pagi-pagi, persis ketika hendak salat subuh, saya slalu berhenti di meja kamar, ngecheck inbox hp dan message bb. Dan biasanya juga, tidak kurang Dari 15 menit sy brdiri mematung disisi meja membuka 2-5 pesan yg sdh menanti untuk dibaca. Dan tidak jarang juga sampai harus perlu mereply pesan dari beberapa misscall masuk.

Ya, namun pagi ini saya tidak melakukannya. Mengingat handphone yg biasanya sy ketak-ketik itu tidak lagi jd milik saya, alias hilang, brpindah tempat skaligus brpindah kepemilikan. Tidak tanggung- tanggung, nomor dan phonebook ny pun ikut raib.

At least, sy punya 2 alasan untuk bersyukur dan 1 alasan juga untuk bersedih.

Pertama, saya bersyukur bahwa sekarang begitu bangun pagi saya bisa langsung salat subuh tanpa ada beban moril terhadap apapun isi pesan dlm handphone.

Kedua, saya bersyukur bs full trbebas dari beban on call pekerjaan yang biasanya msh perlu sy pikirkan sekalipun berada di rumah.

Ya, namun ada 1 alasan saya untuk kembali bersedih,

bahwa kondisi ini hanya berlangsung tidak kurang dari satu hari satu malam.

#efeksampingkehilangankontakphonebook

 

 

Lembaran baru

Wajah langit sore ini nampak mendung, diselingi sepoi angin yg beradu dengan dedaunan kering yg meronta-ronta. Mirip suasana wild west suku indian Mohican kala berduka.trlebih, Awan hitam mulai mendominasi diantara tenggelamnya matahari..

Bulan ini, mei 2014, mustinya musim penghujan berlalu, berganti dgn terik matahari. Namun, rintik hujan masih tdk rela mlepas rindunya dr warga ibukota.. Sore hari, aktifitas rutin pulang kantor pun selalu ditemani gerimis hujan dn sayup suara radio HT yg menginfokan genangan air..

Global warming sdh menciptakan anomali baru, berikut dengan berbagai ekses yg mnyertainya. Belum lagi luapan emosi dr kita kala mengarungi semerawutnya lalu lintas Kota, menambahkan getir yg menutupi cahaya optimisme bernama toleransi..

Hal normatif dan klise ny adalah menyalakan lilin di kegelapan.. Berbuat kebaikan kecil yg diawali dengan mendinginkan kepala dan mengedepankan rasionalitas yg asertive..Dan siapa lagi klau bukan dari diri kita pribadi..

Anggap sj tulis menulis sy ini menjadi langkah kecil sy dlm menularkan Optimisme dn humanitarian saya, Dan dgn sgala kterbatasan, saya tandai postingan ini sebagai lembaran baru sy..Untuk Indonesia baru..

 

Return..

Saat ini, saya sengaja memaksakan diri untuk menulis meski dengan segala keterbatasan waktu dan padatnya kegiatan, baik di kantor maupun di rumah.

Pertama, saya ingin meminta maaf kepada para pengunjung blog saya, terutama bagi yang menyempatkan diri untuk menulis pertanyaan maupun pernyataan/komentar di blog saya.  Jujur, saya pribadi memang belum (sempat) membalasnya, dan bahkan beberapa komentar tersebut ada yang baru saja saya approve untuk ditampilkan.

Kedua, saya ingin menyampaikan bahwa saat ini memang ada beberapa amanah baru yang saya emban, yang kemudian menuntut saya untuk kembali menyesuaikan diri dengan waktu serta situasi dan kebutuhan yang ada.

  1. Sejak bulan Februari 2011, saya ditugaskan ke Cabang Cikampek. Posisi baru di tempat yang baru.
  2. Tanggal 12 Maret 2011, saya menikah. Saya jadi memiliki peranan baru di rumah, yakni sebagai seorang suami (bagi istri saya), menantu (bagi kedua mertua saya), adik-ipar (bagi kakak-kakak istri saya) dan juga masih sebagai anak dari ayah-ibu saya, serta masih sebagai adik juga kakak dari saudara-saudara kandung saya.

Ketiga sekaligus sebagai penutup, saya ingin berbagi kebahagian sehubungan dengan amanah-amanah baru yang saya emban tersebut. Saya berharap hal ini dapat memberikan efek positif bagi pembaca, dan terkhusus bagi saya pribadi untuk pemicu dan motivasi untuk tetap berkarya.

  1. Penugasan saya di Cabang Cikampek telah memberikan saya kesempatan baru untuk lebih mengeksplorasi diri. Hal ini mengingat peranan dari Cabang sebagai unit operasional perusahaan yang menunjang kebutuhan konsumen secara langsung di lapangan. Banyak hal yang saya dapatkan, tidak hanya dari sisi pekerjaan, tetapi juga dari sisi kekeluargaan dan kebersamaan antar sesama karyawan di cabang. Saya merasakan hal-hal yang berat dapat menjadi ringan dan cepat manakala dikerjakan secara tim dan tepat caranya.
  2. Pada kesempatan yang lalu, Perusahaan saya mengadakan peringatan ulang tahun yang ke-33, yang jatuh pada tanggal 1 Maret 2011. Perayaan tersebut dimeriahkan dengan berbagai perlombaan dan pemberian penghargaan terhadap beberapa karyawan, dan beberapa Cabang serta anak perusahaan yang berprestasi. Alhamdulillah, Puji syukur pada Allah SWT, Zat yang Mahabesar karunianya, saya berkesempatan untuk memenangi salah satu perlombaan pada ajang tersebut. Padahal, jujur, waktu yang saya miliki sangat terbatas, dan kesempatan saya untuk ikut pun terkendala dengan adanya aktivitas baru saya di Kantor. Namun dengan dukungan istri (saat itu masih calon), saya berhasil mengatasi keterbatasan tersebut dengan memenangi penghargaan.                                                                Lomba Karya Tulis
  3. Selang dua minggu berjalan, saya kemudian diberi kesempatan untuk menyempurnakan agama (baca:menikah) di usia yang terbilang muda, seperti usia pernikahan Rasulallah SAW. Alhamdulillah saya dikarunia oleh Allah; Istri yang cantik, penurut, taat beragama serta menyayangi keluarga saya.  Rasanya seperti telah genap, mengingat segala kekurangan yang sebelumnya (saya sadari) ada pada diri saya seperti ditutupi oleh istri saya. Kami seperti sebuah tim yang saling bahu membahu dalam setiap tantangan kehidupan.