Feeds:
Posts
Comments

Ketika tuntutan akan dinamika ekonomi semakin meninggi, semua lembaga dan badan bisnis mulai menggeliat dan bergerak untuk meningkatkan pendapatan. Bahkan tidak banyak yang hanya sekedar memiliki harapan untuk bertahan hidup.

Ini bisa dilihat dari pascakrisis global yang dialami Amerika melalui subprime mortgage-nya beberapa waktu yang lalu. Beberapa perusahaan di Amerika dinyatakan pailit dan sebagian tetap beroperasi dengan urat nadi yang kembang kempis.

Ini lantas berdampak secara tidak langsung kepada mentalitas pengusaha dan pemegang kebijakan di Indonesia. Isu kehati-hatian yang digulirkan sampai dengan waktu ini adalah seputar efisiensi dan efektifitas di keseluruhan lini bisnis. Hal tersebut, menurut beberapa sumber, difungsikan tiada lain untuk mengimbangi arus deras krisis global.

Mengenai efisiensi dan efektifitas proses bisnis, saya melihat, tidaklah menjadi persoalan. Namun ini akan menjadi polemik yang keras manakala unsur manusia, sebagai asset, dilupakan.

Isu kehati-hatian para pengusaha yang seolah melupakan unsur manusia tersebut dapat terlihat dengan adanya proses Outsourching yang menjamur dimana-mana. Sebuah sistem perekrutan berupa jaminan kontrak yang hanya mengikat satu arah saja, yakni seorang karyawan pada perusahaan, dan tidak berlaku sebaliknya. Sehingga, ketika perusahaan merasa tidak lagi membutuhkan karyawan yang bersangkutan, karena alasan umur dan produktifitas, perusahaan bisa dengan mudahnya me’rumah’kan karyawan yang bersangkutan tersebut tanpa tedeng aling-aling.

Bila ditarik perakarannya, produktifitas memang sangat berkaitan langsung dengan keberjalanan proses kerja, yang mana bila hal tersebut mengalami penurunan maka akan mempengaruhi pendapatan dari perusahaan. Namun hal tersebut tidak berarti dengan cara melakukan Outsourching.

Bila kejaran pendapatan dituntut untuk tinggi, menurut saya caranya tidak harus dengan menekan sisi sumber daya. Karena dengan adanya kontrak Outsourching tersebut, masa depan dari karyawan, dan espektasi dari karyawan yang pada kodratnya ingin diakui oleh perusahaan tempat dimana karyawan tersebut bekerja jadi dikesampingkan. Hal tersebut justru akan menjadi bumerang untuk perusahaan, karena loyalitas dari karyawan Outsourcing tersebut pastinya akan menjadi sebuah pertanyaan.

Coba bayangkan, kalau sense of belonging (Baca:loyalitas) dari karyawan saja sudah dipertanyakan, apakah produktifitas yang diharapkan dapat tercapai?

Lagipula, ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pendapatan. Misalnya dengan inovasi produksi dan diversifikasi unit produksi. Ini bahkan tidak memiliki pertaruhan sepertihalnya bila melakukan sistem Outsourcing yang mana efisiensi berbenturan dengan loyalitas.

Akhir kata, menurut saya, hal yang perlu dilakukan bukanlah dengan memberangus harapan/espektasi dan masa depan dari seorang manusia. Namun yang lebih bijak adalah dengan me-manage harapan, masa depan dan espektasi dari para manusia tersebut.

Karena sesungguhnya, dari setiap manusia itu ada buah akal dan pikiran, yang bilamana kita tahu cara untuk memanfaatkannya kita bisa mencapai segala hal yang dicita-citakan.

Tempo hari saya menemukan sebuah cuplikan buku yang bagus. Buku itu ditulis oleh David Ransom, seorang warga Negara Amerika lulusan Havard yang menjadi anggota dari Pasific Studies Center. Sekedar informasi bahwa Pasific Studies Center adalah merupakan lembaga pusat studi masalah-masalah yang terkait dengan wilayah pasifik, sedangkan posisi dari David Ransom di lembaga itu sendiri dikhususkan untuk mempelajari Indonesia.

Judul dari buku itu adalah “Berkeley Mafia and Indonesian Massacre”. Buku ini dahulu sempat diterjemahkan dan dimuat sebagai tulisan bersambung di Majalah Dwiwarna Jakarta tahun 1970.

Terjemahan judul buku tersebut cukup menohok, yakni “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia.

Dalam tulisan tersebut ada beberapa hal yang diungkapkan oleh David Ransom, yang antara lain :

  • Kronologis penggulingan Soekarno, yang tidak lain adalah campur tangan Amerika melalui jaringan-jaringan terselubungnya.

Ini berawal saat munculnya pengakuan kemerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1950, pengakuan tersebut ternyata mensyaratkan Indonesia untuk menanggung beban utang luar negeri yang dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda. Alhasil, sejak tahun 1950 bangsa Indonesia mewarisi utang Hindia Belanda sebesar US$ 4 Miliar.

Dan dengan adanya hutang tersebut, pemerintahan Soekarno tidak bisa lepas dari tekanan pihak pemberi hutang (baca: Amerika).

Tekanan tersebut antara lain adalah adanya intervensi saat periode 1950-1956. Yakni saat adanya tekanan dari Amerika Serikat bahwa Indonesia harus mengakui keberadaan pemerintahan Bao Dai di Vietnam.

Klimaksnya adalah saat terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia tahun 1964. Dimana ketika itu Malaysia didukung oleh Inggris. Pemerintahan Soekarno yang saat itu geram, lantas menasionalisasi seluruh perusahaan Inggris di Indonesia. Hal tersebut adalah kali kedua pemerintahan Soekarno melakukan nasionalisasi setelah menasionalkan perusahaan milik Belanda tahun 1956.

Adapun rupanya, Amerika Serikat turut campur dengan masalah tersebut. Pemerintahan Amerika menuntut bahwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia harus segera diakhiri. Hal tersebut yang lantas menyulut kemarahan Soekarno hingga mengatakan “go to hell with your aid”.

Penolakan keras tersebutlah yang membuatnya harus menyerahkan tangkup kepemimpinan Negara pada Soeharto, tepat pada tanggal 11 Maret 1966.

  • Kebijakan politik Amerika Serikat dengan dalih antikomunisnya telah menjerat bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain untuk masuk ke dalam strategi globalnya. (Baca: Liberal dan kapitalisasi)

  • Langkah-langkah yang dilakukan oleh badan intelijen Amerika Serikat  (Baca: CIA) telah menyusupi hampir semua badan, lembaga, kekuatan sosial-politik, dan oknum-oknum penting untuk kemudian diperalat.

  • Yayasan-Yayasan yang menyediakan dana-dana bantuan pendidikan semacam Ford Fondation dan Rockefeller Foundation, yang disamping sering memberi bantuan-bantuan perlengkapan, tenaga-tenaga ahli, juga membiayai pengiriman mahasiswa-mahasiswa diluar negeri adalah merupakan alat, pangkalan (sarang) dan kedok CIA untuk melancarkan operasi-operasinya ke berbagai penjuru dunia.

  • Perguruan-perguruan tinggi semacam: Berkeley, Cornell, MIT (baca : Massachusetts Institute of Technology), Havard dan lain-lain telah dijadikan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-ilmu liberal dan meng-amerika-kan para mahasiswa yang datang dari berbagai negeri, serta menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika (baca:CIA) yang setia.

  • Bahwa banyak badan-badan pendidikan dan perikemanusiaan sekedar dijadika kedok semata-mata untuk kepentingan CIA.

  • Mengapa Soekarno mesti digulingkan dan nasionalisme yang dibawanya mesti dihancurkan.

  • Bagaimana kaum Sosialis Kanan/PSI telah berpuluh tahun mengadakan persekongkolan dengan CIA untuk merebut kekuasaan di Indonesia ini dari tangan Soekarno.

  • Bagaimana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta telah dijadikan dapur dan sarang komplotan PSI-CIA dan untuk dari situ melancarkan gerilya politik dan subversinya kemana-mana.

  • Bagaimana bantuan-bantuan ahli dari A.S seperti Guy Parker, George Kahin, John Howard, Harris, Glass-burner, dan kaum Sosialis Kanan/PSI semacam : Soemitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, Sadli, Emil Salim, Subroto, Barli Halim, dan Sudjatmoko yang popular sebagai kaum teknokrat-ekonom caliber internasional dan dahulu berhasil menduduki posisi-posisi penting dalam lembaga-lembaga pemerintahan puncak, telah lama “mengadakan permainan bersama yang lihai”.

  • Apa peranan dan usaha kaum Sosialis Kanan/PSI yang berkerumun di sekitar Jendral Soeharto saat itu.

  • Dan lain-lainnya.

Terlepas dari pernyataan beberapa pihak bahwa tulisan tersebut adalah salah, palsu dan hanya fitnah belaka, menurut saya yang terpenting adalah para generasi muda ‘melek’ akan sejarah bangsanya sendiri.

‘Melek’ disini konotasinya mengarah kepada keingintahuan yang besar akan sejarah di masa lalu, yakni dengan tidak acuh terhadap segala informasi dan senantiasa melakukan Cross Check pada info apa pun yang beredar.

Mengingat masa kini adalah buah dari masa lalu, maka perlu adanya suatu Aware yang tinggi terhadap sejarah, sehingga langkah kita ke depan bisa lebih tepat atau minimnya tidak mengulangi kesalahan yang dahulu dibuat oleh para pendahulu kita.

Karena tentunya kita semua tidak menginginkan terjatuh pada kesalahan yang sama, sepertihalnya keledai yang jatuh di lobang yang sama.

Semoga ada manfaatnya.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat disposisi untuk menghadiri presentasi penelitian dari Konsultan. Presentasi tersebut diadakan di cabang dan melibatkan divisi pemeliharaan pusat, bagian pemeliharaan cabang serta PT Lapi Ganeshatama selaku Konsultan.

Presentasi tersebut membahas mengenai penelitian yang dilakukan Konsultan terkait dengan kondisi dan masa layan dari Ramp A&B Jembatan Tomang, serta Jembatan Pluit.

Sebagai gambaran, struktur eksisting (Gelagar) Jembatan tersebut menggunakan Baja dengan tipe penampang gelagar yang berbeda antara Ramp A dan Ramp B. Arahan dari penelitian tersebut adalah meninjau aspek layan dari struktur, sehingga tindakan antisipasi dalam bentuk perbaikan dan perkuatan dapat dilakukan sedini mungkin oleh kami sebagai pengelola Jalan Tol.

Sedikit intermezo, terlepas dari masalah penelitian, ada hal yang menarik pada presentasi kali ini. Kondisinya adalah panelis yang mempresentasikan hasil penelitian tersebut, tiada lain adalah Dosen saya sendiri, yang dahulu saya kagumi.

Saya masih ingat betul. 2 tahun yang lalu, saya mempresentasikan hasil kerja praktek saya di depan beliau dan sekarang, kondisinya adalah saya berbalik menjadi pendengar beliau presentasi.

Namun, tetap saja, menurut saya, Beliau adalah dosen terbaik saya. Sedikit terlihat subjektif memang, namun nyatanya hasil dari penelitian tersebut cukup memetakan kondisi struktur bangunan kami.

Lingkup penilitian yang dilakukan oleh Dosen saya beserta timnya adalah melakukan analisis struktur dengan bantuan program analisis SAP dan kemudian melakukan pengujian Fatigue bangunan serta pengujian dinamik Jembatan Pluit.

Analisis Struktur

Pada saat melakukan analisis struktur, permodelan geometrisnya diambil dari gambar perencanaan dan pengamatan langsung dilapangan. Sementara permodelan pembebanannya, diambil dari standar pembebanan termasuk didalamnya beban layan (beban sendiri, serta beban lalu lintas)  ditambah asumsi konservatif berupa konfigurasi pembebanan dari Bridge Management System, Departemen PU tahun1992. Input ini kemudian di analisis menggunakan program SAP2000 versi 9.03.

Hasil dari analisis struktur ini menunjukkan hasil displacement vertikal max

  • displacement vertikal max sebesar 68,95 mm untuk Ramp A
  • displacement vertikal max sebesar 55,95 mm untuk Ramp B

Menurut standar BMS-PU,1992 dapat disimpulkan bahwa hasil tersebut diatas masih ‘OK’ karena displacement vertikal max masih dibawah ambang yakni L/800.

Selain itu, keseluruhan dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rasio kekuatan < 1 untuk seluruh elemen.

Pengujian Fatigue

Tujuan dari pengujian ini adalah mengestimasi umur Fatigue Jembatan Tomang Ramp A dan B. Metodologi yang Dosen saya gunakan adalah pertama, melakukan pengukuran regangan kemudian mengkarakterisasikan rentang tegangan yang terjadi akibat beban hidup. Kedua, melakukan identifikasi jumlah kejadian untuk setiap rentang tegangan kritis setiap harinya. Dan selanjutnya melakukan perhitungan indeks kerusakan kumulatif harian sehingga umur Fatigue dapat diestimasi.

Pengukuran regangan dilakukan dengan memasang Strain Gauge pada pelat jembatan. Dan Hasil dari analisis ini didapatkan ;

  • Umur Fatigue untuk Ramp A = 64 tahun
  • Umur Fatigue untuk Ramp B = 70 tahun

Pengujian Dinamik Jembatan Pluit

Sementara itu, pengujian dinamik Jembatan Pluit dilakukan dengan cara membandingkan antara hasil perhitungan teoritis dengan hasil pengukuran dilapangan menggunakan alat yang dinamakan Akselerometer.  Tujuannya adalah mendapatkan karakteristik dinamik (Frekuensi) struktur jembatan dan memperoleh gambaran mengenai kondisi kekakuan struktur.

Hasil yang didapatkan frekuensi hasil pengukuran dengan frekuensi teoritik adalah hampir sama.

Frekuensi tertinggi struktur jembatan pluit bernilai 4,84 Hz dan 4,58 Hz. Sementara frekuensi alami teoritis yang dihitung dari dimensi struktur sebesar 4,79Hz.

Hasil ini menunjukkan bahwa frekuensi alami struktur masih sesuai dengan kondisi awal dan kekakuan struktur jembatan dapat dianggap masih memadai sesuai dengan kekakuan yang direncanakan.

Pengukuran Ketebalan Sisa

Disamping itu juga dilakukan pengukuran ketebalan sisa yang bertujuan mengetahui ketebalan sisa pelat baja pada jembatan Tomang Ramp A dan Ramp B.

Pengukuran tebal pelat baja box girder ini menggunakan Ultrasonic Thickness Gage (UTG).

Data ini kemudian dapat digunakan sebagai masukan untuk pengecekan keamanan struktur jembatan.

Kejadian gempa beberapa waktu lalu menyisakan sejumlah permasalahan yang terkait dengan kelayakan sebuah bangunan untuk tetap dihuni.

Bangunan tempat tinggal, maupun bangunan pencakar langit, dan jembatan boleh jadi mengalami beberapa kerusakan akibat kejadian gempa beberapa waktu lalu. Dan hal itu, menurut saya tidak dapat dipungkiri, karena bisa jadi efek pasca gempa tersebut menyisakan sebuah perlemahan-perlemahan terhadap struktur bangunan yang mengalami goncangan tersebut.

Kali ini, saya mencoba untuk memetakan beberapa hal yang saya harap dapat turut serta mewarnai pemecahan masalah terkait dengan gempa bumi yang kerap terjadi di negara yang kita cintai, Indonesia ini.

Untuk permasalahan kerusakan, bentuk kerusakan yang sering terjadi akibat goncangan gempa bumi ini ada 2 hal : pertama adalah Spalling, dan yang kedua adalah keretakan.

1. Spalling

Spalling adalah kerusakan berupa terlepasnya suatu bagian beton. Ini biasanya terjadi akibat tumbukan antar elemen struktur akibat goncangan gempa bumi.

Metode perbaikan dari bentuk kerusakan ini tergantung dari dalamnya spalling yang terjadi.

  • Untuk spalling yang tidak terlalu dalam (baca : lepasnya kurang dari selimut beton) dan area yang tidak luas, dapat digunakan metode patching.

Ini merupakan cara manual, dimana mortar ditempelkan secara padat dengan cara manual.

  • Untuk spalling yang melebihi selimut beton, dapat digunakan metode grouting, yakni metode perbaikan dengan melakukan pengecoran memakai bahan non-shrink mortar.

Grouting bisa dilakukan dengan cara manual atau dengan menggunakan pompa.

2. Keretakan

  • Untuk keretakan pada elemen non struktural, seperti pada dinding pasangan bata dapat diatasi dengan metode injeksi  material pasta semen yang dicampur dengan expanding agent serta latex atau hanya melakukan sealing saja dengan material polymer mortar atau polyurethane sealant. (Sumber : Ir. Hartono , Ir. Handi Prajitno & Ir Richard Pelupessy)
  • Untuk keretakan pada elemen struktural, digunakan metode injeksi dengan material epoxy yang mempunyai viskositas yang rendah, sehingga dapat mengisi dan sekaligus melekatkan kembali bagian beton yang terpisah.

Semoga ada manfaatnya.

Being ‘Kelu’

Beberapa waktu ini, terus terang, saya pribadi benar-benar merasa ‘kelu’ untuk menulis. Dan masalahnya, ternyata bukan  sekedar karena tidak punya waktu, dan juga bukan karena sekedar tidak ada ide untuk dituangkan.

Saya seperti kehilangan gairah untuk berkata-kata dengan tulisan. Saya bahkan sempat bertanya pada diri saya sendiri, untuk alasan apa saya harus terus menulis?

tiba-tiba saya teriang kata-kata Einstein dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya.

“It’s not that i’m so smart, it’s just that i stay with problems longer”

Apakah ini jawaban dari pertanyaan saya?

rupanya rasa ‘kelu’ ini perlu. Utamanya untuk mengingatkan saya, betapa saya harus menghargai sebuah ‘antusiasme’ yang dahulu pernah saya rasakan. Supaya kedepannya, ketika antusiasme itu datang lagi, saya tidak boleh menyia-nyiakannya seperti dahulu.

Terkadang panca indera kita dipergunakan tidak pada tempatnya. Mulut hanya dipergunakan untuk berkelit dan menjaga tendensi, telinga tidak dipergunakan untuk mendengar lawan bicara dan lebih-lebih, rupanya, ringan sekali ancaman tangan ini dilayangkan untuk sebuah perbedaan persepsi.

jotos

02 November 2009, Anggota komisi III, Gayus Lumbun dan pengacara OC Kaligis bersitegang (baca: hampir adu jotos) di acara Apa Kabar Indonesia TV One.

Benar adanya, bahwa ‘Tua itu pasti, namun dewasa itu pilihan’.

Biarlah momen ini saya potret untuk saksi anak cucu saya kelak, bahwa seorang perwakilan rakyat yang baik, bukan hanya pandai dalam bertutur kata dan berbicara, tapi orang tersebut pun harus aktif berbuat untuk rakyat (baca:bukannya berbuat untuk prosedur) dan utamanya harus pandai mengendalikan diri dan kata-kata yang akan diucapkannya.

Iy, Pengendalian diri dan kata-kata yang diucapkan sebagai insan yang dianugrahi Sang Pencipta, nikmat akal dan pikiran.

Ada pepatah mengatakan ‘ketika kita bodoh, kita cenderung ingin menguasai dunia dan orang lain, namun, ketika kita bijak,kita akan cenderung ingin menguasai diri kita pribadi’.

Pepatah cina pun mengatakan “siapa musuh terbesarmu? Musuh terbesarmu tiada lain adalah dirimu sendiri, nafsumu, amarahmu dan tabiat burukmu”

Apalah arti sebuah tendensi? Bila harga diri lantas tercabik dengan tingkah kekanak-kanakan?

Pasca pengerjaan jalan tol Kanci-Pejagan, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan laba bersihnya mencapai 23,07% (baca : record hingga triwulan III-2009). Catatan peningkatan laba bersih ini seiring meningkatnya pendapatan perseroan mencapai 32,63%. Pada triwulan III-2008, pendapatan PT Adhi Karya sebesar Rp 3,662 triliun, dan naik menjadi Rp 4,857 triliun pada triwulan III-2009.

Sementara itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 4,27% hingga triwulan III-2009. Setelah dikurangi pajak dan hak minoritas atas laba bersih anak perusahaan, TLKM mencatat laba bersih sebesar Rp 9,3 triliun, naik 4,27% dari sebelumnya Rp 8,919 triliun.

Namun, disisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat penurunan laba bersih sebesar 81,97% hingga triwulan III-2009. Setelah dikurangi pajak, ANTM mencatat laba bersih sebesar Rp 292,660 miliar, anjlok 81,97% dari sebelumnya Rp 1,624 triliun.

Contoh diatas, saya rasa cukup menggambarkan pergerakan bisnis dari perusahaan-perusahaan negara pada masa kini.Inilah yang banyak orang sebut sebagai praktek GCG (Baca: Good Corporate Governance), yang akuntable dan transparan.

Bila dilihat dari lingkup globalnya, perusahaan-perusahaan negara tersebut bergerak sangat dinamis. Kadang mengalami kenaikan, kadang bahkan turun, dan kesemuanya bergerak, tidak sama pada periode waktu-waktu dari sebelum sampai record kesudahannya.

Hal tersebut berbeda dengan periode terdahulu, dimana BUMN, sebagai perusahaan negara, kecenderungannya hanya sebagai ‘parasit’ APBN. Orientasinya belum bicara tentang profit, melainkan parasit, karena apa-apa yang menyangkut operasional perusahaan belum transparan dan masih didominasi kepentingan segelintir orang dalam lingkup perusahaan negara tersebut.

Maka tidak heran bila dahulu ada istilah laporan keuangan ganda. Laporan keuangan yang dibuat dua buah didalam satu perusahaan negara. Yang satu, nilainya dikecilkan untuk menghindari pajak, dan yang satu lagi dibesarkan (baca: ‘sugar coating’) untuk membuat senang menteri dan komisaris.

Akhir kata, saya hanya berharap, praktik GCG ini tidak ternodai oleh konflik kepentingan dalam kerangka politis. Karena, bila kejadiannya seperti itu, tidak ada yang lebih patut disalahkan selain pemerintah sebagai ‘parent’ nya BUMN. Tapi rasanya mustahil sih dunia bisnis di Indonesia tidak diwarnai unsur politis. La wong semuanya butuh makan. Partai butuh makan,bos butuh makan, penegak hukum butuh makan, meja hijau butuh makan, Cicak butuh makan, buaya butuh makan, si papah butuh makan, si mamah butuh makan, anak-anak butuh makan, tetangga butuh makan, fakir miskin dan anak terlantar pun butuh makan.

Sumpah Pemuda 2009

Sukarno berkata,

Beri aku 1000 orang tua,maka akan kupindahkan sebuah Gunung.
Beri aku 10 orang pemuda yang tangguh, maka akan aku guncangkan dunia.

Pertanyaannya, apakah diri ini termasuk dalam 10 pemuda yang bisa Sukarno pimpin mengguncang dunia?

Rupanya menjadi seorang yang dipimpin itu sama sulitnya dengan menjadi seorang pemimpin.

Bila melihat kecenderungannya sekarang, rakyat Indonesia, sepertinya sangat ‘haus’ akan kekerasan. Tidak hanya kaum non-intelektual, bahkan kaum intelek dan terpelajar (baca:mahasiswa) nya pun ‘doyan’ dengan aksi demonstrasi anarkis. Belum lagi bila ditambahkan koleksi tawuran mahasiswa dan dosa kekerasan dalam lingkup akademi semi militer milik pemerintah.

kerusuhan -mhsw-

Kemanakah 10 pemuda itu berada? wahai generasi muda indonesia?

iy, Lelah rasanya berdebat.

Apa tidak Lebih baik jika pertanyaan tersebut dijawab dengan aktualiasi perbuatan dan karya nyata?

Akhir kata, saya pribadi mengucapkan selamat hari sumpah pemuda, bagi yang merayakannya.

Filosofi 忍者 (NINJA)

Gennosuke adalah nama seorang shinobi/ninja yang terkenal dari Koga Manjitani.

Naruto, tokoh kartun yang dielu-elukan anak-anak jaman sekarang, juga adalah nama seorang ninja.

Iga Tsubagakure juga, dan masih banyak lagi ninja yang lainnya.

Lantas ,memangnya, ada apa dengan ninja?

Kemarin malam, saya menonton sebuah film berjudul Shinobi. Film itu berkisah tentang pengorbanan seorang ninja atas kepentingan cinta.

Film itu bagus. Ber-genre action dengan bumbu cinta didalamnya.

Seselesainya film tersebut, saya kemudian jadi sangat tertarik untuk menguliti filosofi dalam ninja.

忍者 (baca: Ninja)

ninja

Berangkat dari etimologi katanya, Ninja terbentuk dari dua buah suku kata, yakni ‘nin’ yang artinya tersembunyi dan ‘sha’ yang artinya orang.

Bila ditelisik lebih lanjut, dalam istilah ninja, ada keahlian yang disebut seishin teki kyoyo. Artinya adalah pemurnian jiwa. Keahlian ini berangkat dari pengenalan jati diri, tentang bagaimana seorang ninja harus mengetahui dengan tepat komitmen dan motivasi hidupnya sebelum berkiprah dalam memikul tanggung jawab.

Saya terus terang salut dengan keahlian ini. seishin teki kyoyo.

Pertama, dengan komitmen dan motivasi yang tepat, pekerjaan sesulit apapun pasti akan ada jalan keluarnya.

Kedua, saya pernah dengar cameo bijak yang bertutur “ketika kita bodoh, kita akan berusaha menakhlukkan dunia, tapi ketika kita bijak, kita akan lebih memilih menakhlukkan diri sendiri”.

Dengan pengenalan jati diri yang berkesinambungan, seseorang akan mengerti dan memahami bagaimana memanfaatkan kelebihan dalam dirinya guna menutupi kekurangan pada dirinya. Dan bahkan lebih hebatnya, bisa merubah kekurangan yang dimiliki tersebut menjadi kekuatan.

Semoga ada manfaatnya.

Hari ini, Jumat, 16 Oktober 2009, ranah ibukota kembali berguncang. Kali ini gempa terjadi di 42 Km barat laut Ujung Kulon, Banten, dengan kekuatan gempa 6,4 Skala Richter. Menurut Kepala Bidang Info Dini dan Tsunami, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami meskipun kekuatannya relatif cukup besar.

Saya pribadi, hari ini, terus terang tidak begitu merasakan adanya guncangan akibat gempa tersebut. Padahal rekan-rekan di kantor sempat berhamburan untuk keluar menyelamatkan diri.

Guncangan yang saya alami, terjadi justru ketika saya sampai dirumah dan menonton televisi. Tiba-tiba, Ulasan prediksi mengenai posisi menteri kabinet SBY-Boediono ini membuat saya bergoncang. Saya mencoba untuk berfikir positif akan hal ini, namun tetap saja, sangat lucu rasanya untuk mencernanya. Beberapa nama calon menteri tersebut, entah, rasanya cukup menggelikan dengan prediksi posisinya saat ini.

Akhir kata saya hanya bisa berharap, semoga saja yang terbaik yang akan dipilih, karena bila tidak, korban dari goncangan kabinet menteri ini tidak hanya bersifat lokal saja. Karena efeknya bisa kena ke seluruh Indonesia. Yakni pada rakyat, dan utamanya masyarakat kecil yang akan menjadi korban dari salahnya penempatan posisi menteri ini.

Older Posts »