Ketika tuntutan akan dinamika ekonomi semakin meninggi, semua lembaga dan badan bisnis mulai menggeliat dan bergerak untuk meningkatkan pendapatan. Bahkan tidak banyak yang hanya sekedar memiliki harapan untuk bertahan hidup.
Ini bisa dilihat dari pascakrisis global yang dialami Amerika melalui subprime mortgage-nya beberapa waktu yang lalu. Beberapa perusahaan di Amerika dinyatakan pailit dan sebagian tetap beroperasi dengan urat nadi yang kembang kempis.
Ini lantas berdampak secara tidak langsung kepada mentalitas pengusaha dan pemegang kebijakan di Indonesia. Isu kehati-hatian yang digulirkan sampai dengan waktu ini adalah seputar efisiensi dan efektifitas di keseluruhan lini bisnis. Hal tersebut, menurut beberapa sumber, difungsikan tiada lain untuk mengimbangi arus deras krisis global.
Mengenai efisiensi dan efektifitas proses bisnis, saya melihat, tidaklah menjadi persoalan. Namun ini akan menjadi polemik yang keras manakala unsur manusia, sebagai asset, dilupakan.
Isu kehati-hatian para pengusaha yang seolah melupakan unsur manusia tersebut dapat terlihat dengan adanya proses Outsourching yang menjamur dimana-mana. Sebuah sistem perekrutan berupa jaminan kontrak yang hanya mengikat satu arah saja, yakni seorang karyawan pada perusahaan, dan tidak berlaku sebaliknya. Sehingga, ketika perusahaan merasa tidak lagi membutuhkan karyawan yang bersangkutan, karena alasan umur dan produktifitas, perusahaan bisa dengan mudahnya me’rumah’kan karyawan yang bersangkutan tersebut tanpa tedeng aling-aling.
Bila ditarik perakarannya, produktifitas memang sangat berkaitan langsung dengan keberjalanan proses kerja, yang mana bila hal tersebut mengalami penurunan maka akan mempengaruhi pendapatan dari perusahaan. Namun hal tersebut tidak berarti dengan cara melakukan Outsourching.
Bila kejaran pendapatan dituntut untuk tinggi, menurut saya caranya tidak harus dengan menekan sisi sumber daya. Karena dengan adanya kontrak Outsourching tersebut, masa depan dari karyawan, dan espektasi dari karyawan yang pada kodratnya ingin diakui oleh perusahaan tempat dimana karyawan tersebut bekerja jadi dikesampingkan. Hal tersebut justru akan menjadi bumerang untuk perusahaan, karena loyalitas dari karyawan Outsourcing tersebut pastinya akan menjadi sebuah pertanyaan.
Coba bayangkan, kalau sense of belonging (Baca:loyalitas) dari karyawan saja sudah dipertanyakan, apakah produktifitas yang diharapkan dapat tercapai?
Lagipula, ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pendapatan. Misalnya dengan inovasi produksi dan diversifikasi unit produksi. Ini bahkan tidak memiliki pertaruhan sepertihalnya bila melakukan sistem Outsourcing yang mana efisiensi berbenturan dengan loyalitas.
Akhir kata, menurut saya, hal yang perlu dilakukan bukanlah dengan memberangus harapan/espektasi dan masa depan dari seorang manusia. Namun yang lebih bijak adalah dengan me-manage harapan, masa depan dan espektasi dari para manusia tersebut.
Karena sesungguhnya, dari setiap manusia itu ada buah akal dan pikiran, yang bilamana kita tahu cara untuk memanfaatkannya kita bisa mencapai segala hal yang dicita-citakan.






